Expression of Emotion As Impoliteness Markers In Instagram Comments Section In Indonesia: A Pragmatic Study , D. Suganda, S. Yuliawati, Nani Darmayanti, 2022. The paper analyzes impoliteness markers in Indonesian Instagram comments using pragmatic theories. It focuses on swear words, examining their form, reference, and impact.Indonesian Netizens’ Impoliteness Toward Government Loudspeaker Policies: A Cyberpragmatic Approach, Tri Santoso, Endang Nurhayati, Margana, Journal of Language Teaching and Research, 2025. The paper analyzes impoliteness in Indonesian netizens' comments on a government policy, using a cyberpragmatic approach and Leech's impoliteness theory. It identifies deviations from maxims of wisdom, politeness, agreement, and sympathy.
Politeness and Impoliteness Strategies in Lecturer-Student Communication Within Cyberpragmatic Chats, Faizal Risdianto, M. Machfudz, 2023. The paper perfectly matches the criteria for impoliteness and cyberpragmatics. It analyzes impoliteness principles in online communication and uses a cyberpragmatic approach to study online interactions. It is somewhat relevant to the Indonesian language criterion as it examines communication in both English and Indonesian.
Impoliteness Strategy for Cyberbullying in Indonesian on Instagram Social Media, Subyantoro, Suseno, Zuliyanti, 2023. The paper analyzes impoliteness strategies in Indonesian cyberbullying speech on Instagram, identifying positive and negative impoliteness types. While relevant to cyberpragmatics through its discussion of impoliteness, it doesn't explicitly apply specific pragmatic frameworks.
HATE SPEECH ON SOCIAL MEDIA: INDONESIAN NETIZENS’ HATE COMMENTS OF PRESIDENTIAL TALK SHOWS ON YOUTUBE, Ismail Tahir, Muhammad Gana Fajar Ramadhan 2024. This paper analyzes hate speech in Indonesian netizens' comments on YouTube, focusing on impoliteness strategies. It identifies early warning as the most common type of hate comment. While it touches on digital communication and (im)politeness analysis, it does not explicitly apply specific pragmatic theories.

JASA BIKIN WEB OJS & PENDAMPINGAN INDEXING JURNAL

 JASA BIKIN WEB OJS & PENDAMPINGAN INDEXING JURNAL


Instansi/Lembaga Anda Ingin Membuat Jurnal Online Berbasis Open Journal System (OJS)?




Kami melayani pembuatan Website Jurnal OJS sampai proses penerbitan dan didampingi hingga bisa mengelola sendiri.
Paket yang kami tawarkan:
Installasi OJS untuk Single/satu jurnal
Registrasi Domain Dan Hosting (sewa domain & hosting dalam tanggungan client)
Pemilihan Theme OJS
Pengurusan E-ISSN
Index Google Scholar
Index Garuda
Update Versi OJS
Silakan Hubungi kami (Admin) WA: +6282138192095 atau 0856-4201-9501.

Lafadz Takbiran Lengkap

 

Berikut adalah lafadz takbiran lengkap yang sering dibaca saat Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha. Takbiran ini berisi pujian kepada Allah, pengagungan, dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ:

Lafadz Takbiran Lengkap

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu wallahu Akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.
Allahu Akbaru Kabira, walhamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila.
Laa ilaaha illallahu wahdah, sadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wa hazamal ahzaaba wahdah.
Laa ilaaha illallahu wallahu Akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Artinya

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan hanya milik Allah segala puji.
Allah Maha Besar dengan kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang.
Tidak ada Tuhan selain Allah semata, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan menghancurkan musuh-musuh sendirian.
Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan hanya milik Allah segala puji.

Makna Takbiran

  1. Pengagungan kepada Allah: Mengakui kebesaran dan keesaan-Nya.

  2. Pujian kepada Allah: Mensyukuri nikmat yang telah diberikan.

  3. Doa dan harapan: Memohon pertolongan serta mengingat kemenangan umat Islam.

Takbiran ini biasanya dilantunkan secara berjamaah di masjid atau di rumah dengan penuh semangat sebagai bentuk syukur atas hari kemenangan umat Islam.


Answer from Perplexity: pplx.ai/share

Kata "Bangsat" adalah kutu busuk dan kata "Bajingan" adalah orang yang mengendalikan gerobak sapi

Kata "bangsat" dalam bahasa Indonesia memiliki dua makna utama yang berkaitan dengan asal-usulnya. Pertama, "bangsat" merujuk pada sejenis serangga parasit, yaitu kutu busuk (Cimex lectularius), yang dikenal karena kebiasaannya menghisap darah manusia dan hewan berdarah panas lainnya. Kutu ini sering ditemukan di tempat tidur, sofa, dan area tersembunyi lainnya, dan dapat meninggalkan bekas gigit yang gatal dan menyakitkan12.

Kedua, dalam konteks sosial dan bahasa sehari-hari, "bangsat" juga digunakan sebagai kata umpatan atau makian untuk menggambarkan orang yang berperilaku jahat atau merugikan orang lain. Penggunaan kata ini sebagai umpatan mungkin berasal dari rasa frustrasi atau kesal yang dialami seseorang ketika digigit oleh kutu busuk, sehingga kata tersebut menjadi sinonim untuk menyebut orang-orang yang dianggap tidak beretika45.

Appraisal and Ideology Realization

 


Document Type : Original Article

Authors

1 Universitas Sebelas Maret, Indonesia

2 Universitas Islam Negeri Salatiga, Indonesia

Abstract

This study analyzes the language employed by Kompas, Republika, Media Indonesia, and Jawa Pos regarding the relocation of Indonesia’s capital city, focusing on attitude, graduation, and engagement. Eight online texts were analyzed using discourse analysis. This paper used systemic functional linguistics as a tool to analyze the texts. The findings revealed a predominance of positive attitude data (67.2% positive, 32.8% negative), predominantly heterogloss in engagement (91.8% heterogloss, 8.2% monogloss), and a majority of raising/sharpening graduation data (75.1% raising/sharpening, 24.9% lowering/softening). This disparity between positive and negative appraisal data signifies significant and contentious issues the government, community leaders, and the general public face concerning the capital city’s relocation. The results of news outlets analysis demonstrated how ideological orientations shape the construction of social and political values, influencing public beliefs and perceptions of the capital relocation project in Indonesia.

Keywords