Internasionalisasi Bukan Berarti De-Lokalisasi: Menimbang Kembali Dominasi Scopus dalam Ekosistem Riset Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan publikasi ilmiah di Indonesia menghadapi tekanan besar dari sistem penilaian global yang diwakili oleh indeksasi Scopus. Tuntutan untuk mempublikasikan karya di jurnal internasional bereputasi sering kali berubah menjadi keharusan struktural bagi dosen dan peneliti, terutama dalam konteks kenaikan jabatan akademik. Namun, semangat internasionalisasi yang seharusnya memperluas wawasan dan jejaring akademik justru berpotensi menjadi bumerang ketika dimaknai secara sempit sebagai kewajiban menembus indeks global dengan mengabaikan dimensi lokal. San Juan (2021) dengan tajam mengkritik fenomena "Scopus-centrism" yang berkembang di universitas dan lembaga riset Filipina, di mana Scopus dijadikan satu-satunya tolok ukur riset berkualitas. Kritik ini memiliki relevansi mendalam bagi Indonesia yang menghadapi dinamika serupa dalam sistem pendidikan tingginya.
Fenomena Scopus-sentrisme bukanlah sekadar perdebatan teknis tentang indeksasi, melainkan cerminan dari ketimpangan struktural dalam sistem produksi pengetahuan global. Scopus dan Web of Science (WoS) dimiliki oleh korporasi penerbitan besar yang berbasis di negara-negara maju, dengan keanggotaan dewan penasihat yang didominasi oleh institusi dari Amerika Utara dan Eropa . Dominasi ini membawa konsekuensi epistemik: standar kualitas, bahasa, dan topik penelitian yang dianggap "berkelas" cenderung berorientasi pada kepentingan dan perspektif akademik Barat. Dalam konteks ini, publikasi di jurnal internasional bukan lagi sarana dialog ilmiah yang setara, melainkan menjadi instrumen neoliberal yang mengkomodifikasi pengetahuan dan memperkuat ketergantungan akademik negara-negara Selatan terhadap korporasi penerbitan global .
Konsekuensi paling nyata dari kebijakan yang terlalu berorientasi pada Scopus adalah terpinggirkannya riset-riset yang memiliki signifikansi lokal. Penelitian yang bertujuan menyelesaikan persoalan masyarakat Indonesia—seperti isu kemiskinan, kesenjangan pendidikan, konflik agraria, atau kearifan lokal—sering kali kesulitan menembus jurnal internasional karena keterbatasan bahasa, metodologi, atau kerangka teoritis yang tidak sesuai dengan mainstream akademik global. Di sinilah urgensi penguatan kanal publikasi lokal menjadi sangat penting. Sebagaimana diusulkan oleh San Juan (2021), diperlukan dua kanal pengetahuan yang berjalan beriringan: kanal global berbahasa Inggris untuk menjangkau komunitas akademik internasional, dan kanal lokal dalam Bahasa Indonesia atau bahasa daerah untuk menjangkau masyarakat, pemerintah, dan praktisi di tingkat nasional. Indonesia sebenarnya telah memiliki Sistem Informasi dan Teknologi (SINTA) yang dikembangkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi sebagai indeks sitasi nasional, yang berpotensi menjadi alternatif sekaligus pelengkap bagi Scopus .
Yang patut digarisbawahi adalah bahwa pertentangan antara Scopus dan bahasa lokal sejatinya adalah pertentangan semu. Masalah utamanya bukanlah pada Scopus sebagai alat, melainkan ketika Scopus menjadi satu-satunya definisi tentang penelitian yang dianggap bernilai. San Juan (2021) menegaskan bahwa Scopus seharusnya menjadi salah satu indikator kualitas, bukan satu-satunya indikator nilai sosial dan akademik sebuah penelitian. Dalam praktiknya di Indonesia, tekanan untuk publikasi di Scopus telah menimbulkan efek samping yang mengkhawatirkan, mulai dari maraknya praktik perjokian artikel dan publikasi di jurnal predator, hingga terkikisnya integritas akademik dosen yang terpaksa menempuh jalan pintas demi memenuhi target kuantitas . Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 63,3 persen dosen menolak publikasi Scopus sebagai syarat mutlak kenaikan jabatan guru besar, dengan alasan beban biaya dan prosedur yang berbelit . Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan akses yang memperlebar jurang antara dosen di kampus besar dengan yang di kampus swasta atau daerah.
Solusi yang ditawarkan tidaklah radikal, melainkan bersifat korektif dan berkeadilan. Pertama, perlu ada pengakuan yang setara terhadap jurnal nasional bereputasi (SINTA 1-2) sebagai kanal publikasi yang sah untuk kenaikan jabatan akademik. Kedua, dukungan finansial untuk publikasi harus disediakan secara adil, terutama bagi dosen di kampus swasta dan daerah yang selama ini harus menanggung biaya publikasi (Article Processing Charge/APC) yang mencapai puluhan juta rupiah . Ketiga, penguatan ekosistem jurnal nasional perlu dilakukan agar memiliki kualitas internasional tanpa harus sepenuhnya bergantung pada penerbit asing. Program seperti UNAIR Menulis dan Scientific Writing Masterclass yang diinisiasi oleh Universitas Airlangga menunjukkan bahwa peningkatan kualitas publikasi dapat dilakukan melalui pendampingan dan pengembangan kapasitas, bukan sekadar tekanan administratif .
Pada akhirnya, internasionalisasi yang bermakna adalah internasionalisasi yang tidak menghilangkan akar lokalitas. Sebagaimana gagasan "glokalisasi" yang memadukan dimensi global dan lokal dalam berbagai bidang kehidupan, publikasi ilmiah Indonesia juga perlu menemukan keseimbangan antara ambisi global dan tanggung jawab lokal . Kritik terhadap Scopus-sentrisme bukanlah ajakan untuk menutup diri dari pergaulan akademik global, melainkan seruan untuk membangun sistem produksi pengetahuan yang lebih demokratis, berkeadilan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Ilmu pengetahuan semestinya menjadi instrumen emansipasi, bukan alat reproduksi ketimpangan. Dengan memperkuat kanal pengetahuan lokal dan menjadikan Scopus sebagai salah satu indikator—bukan satu-satunya—ekosistem riset Indonesia akan menjadi lebih sehat, produktif, dan relevan bagi kehidupan bangsa.
Daftar Referensi
San Juan, D. M. (2021). Bakit Dapat Manaliksik sa Filipino Ang Mga Pilipino?: Kritik sa Scopus-sentrismo ng Mga Unibersidad at Ahensiyang Pang-Edukasyon at/o Pampananaliksik sa Pilipinas / Why Filipinos Should Write Researches in Filipino?: A Critique of Scopus-Centrism in Philippine Universities and Educational and/or Research Agencies. MALAY, 34(1), 133-171. https://www.researchgate.net/publication/394223061
Kurniasih Mufidayati. (2025, July 7). Komisi X dorong penelitian ilmiah tak hanya kejar kuantitas. ANTARA News. https://www.antaranews.com/berita/4947953/komisi-x-dorong-penelitian-ilmiah-tak-hanya-kejar-kuantitas
Suharsiwi. (2025, August 26). Industri Pengetahuan dan Nasib Dosen: Mengkritisi Syarat Publikasi Scopus untuk Guru Besar. Republika. https://news.republika.co.id/berita/t1kxqm472/
Purnobasuki, H. (2024, December 12). Menakar Kualitas Jurnal Ilmiah Indonesia di Tengah Dominasi Kuantitas. Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur. https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/menakar-kualitas-jurnal-ilmiah-indonesia-di-tengah-dominasi-kuantitas
Lagena, A., Ramadhan, R. A., & Alam, G. N. (2026). Glokalisasi UMKM melalui BUMN: Studi Kasus PT Pos Indonesia sebagai Media Diplomasi Ekonomi Indonesia. Publikasi Unitri. https://publikasi.unitri.ac.id/index.php/fisip/article/view/3794


