Wednesday, August 26, 2026

Internasionalisasi Bukan Berarti De-Lokalisasi

 


Internasionalisasi Bukan Berarti De-Lokalisasi: Menimbang Kembali Dominasi Scopus dalam Ekosistem Riset Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan publikasi ilmiah di Indonesia menghadapi tekanan besar dari sistem penilaian global yang diwakili oleh indeksasi Scopus. Tuntutan untuk mempublikasikan karya di jurnal internasional bereputasi sering kali berubah menjadi keharusan struktural bagi dosen dan peneliti, terutama dalam konteks kenaikan jabatan akademik. Namun, semangat internasionalisasi yang seharusnya memperluas wawasan dan jejaring akademik justru berpotensi menjadi bumerang ketika dimaknai secara sempit sebagai kewajiban menembus indeks global dengan mengabaikan dimensi lokal. San Juan (2021) dengan tajam mengkritik fenomena "Scopus-centrism" yang berkembang di universitas dan lembaga riset Filipina, di mana Scopus dijadikan satu-satunya tolok ukur riset berkualitas. Kritik ini memiliki relevansi mendalam bagi Indonesia yang menghadapi dinamika serupa dalam sistem pendidikan tingginya.

Fenomena Scopus-sentrisme bukanlah sekadar perdebatan teknis tentang indeksasi, melainkan cerminan dari ketimpangan struktural dalam sistem produksi pengetahuan global. Scopus dan Web of Science (WoS) dimiliki oleh korporasi penerbitan besar yang berbasis di negara-negara maju, dengan keanggotaan dewan penasihat yang didominasi oleh institusi dari Amerika Utara dan Eropa . Dominasi ini membawa konsekuensi epistemik: standar kualitas, bahasa, dan topik penelitian yang dianggap "berkelas" cenderung berorientasi pada kepentingan dan perspektif akademik Barat. Dalam konteks ini, publikasi di jurnal internasional bukan lagi sarana dialog ilmiah yang setara, melainkan menjadi instrumen neoliberal yang mengkomodifikasi pengetahuan dan memperkuat ketergantungan akademik negara-negara Selatan terhadap korporasi penerbitan global .