Thursday, October 22, 2026

 *Sejarah penderitaan panjang Ummat Islam  dan pertanyaan tentang Imam Mahdi*

Sejarah umat Islam bukan hanya kisah kejayaan, tetapi juga lembaran panjang penderitaan: pertumpahan darah, perpecahan, penaklukan, penjajahan, dan hilangnya kekuasaan politik. Dari konflik pada masa sahabat hingga kehancuran pusat peradaban, dari runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah hingga pembantaian warga sipil pada masa kolonial, umat Islam berulang kali menghadapi tragedi. Semua itu memunculkan pertanyaan mendalam: mengapa umat Islam mengalami penderitaan begitu panjang, sementara Imam Mahdi yang dinantikan belum muncul? Pertanyaan ini bukan sekadar soal waktu, tetapi menyangkut cara memahami janji keadilan Allah di tengah ketidakadilan yang berlangsung berabad-abad.

 1. *Luka dari dalam: konflik politik masa sahabat (656 dan 661 M)*

Tragedi awal terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan R.A.  Pada 656 M, sekelompok pemberontak mengepung kediamannya di Madinah dan membunuhnya. Setelah Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi khalifah, pemerintahannya berlangsung di tengah ketegangan: Perang Jamal pada 656 M dan Perang Shiffin pada 657 M, yang kemudian memunculkan kelompok Khawarij. Pada 661 M, Ali diserang oleh seorang anggota kelompok tersebut di Kufah dan meninggal akibat luka-lukanya. Keduanya bagian dari rangkaian konflik yang dikenal sebagai fitnah pertama. Pelajarannya: penderitaan umat Islam tidak selalu datang dari luar, tetapi juga dari perebutan kekuasaan dan kegagalan menyelesaikan konflik secara damai. Secara historis, kita hanya dapat memastikan peristiwa itu terjadi dan Imam Mahdi tidak tampil sebagai tokoh sejarah yang dapat diidentifikasi untuk menghentikannya;

 2. *Luka dari luar: kehancuran Baghdad pada 1258 M*

Pada abad ke-13, Baghdad adalah ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah dan pusat penting ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta perdagangan. Pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan mengepung dan merebut kota itu pada awal 1258 M; Khalifah al-Musta'sim Billah terbunuh, disertai penjarahan, pembunuhan, dan kehancuran berbagai bagian kota. Kisah Sungai Tigris yang menghitam karena tinta buku dan memerah karena darah terkenal dalam tradisi narasi, meskipun jumlah korban pastinya masih diperdebatkan sejarawan. Apa pun angka pastinya, peristiwa ini menjadi pukulan besar bagi tatanan politik dan kebudayaan Abbasiyah. Dalam perspektif sejarah, kehancuran itu dapat dijelaskan melalui ekspansi militer Mongol, kelemahan politik Abbasiyah, dan dinamika kekuasaan regional; tidak ada dasar cukup untuk memastikan setiap bencana besar harus segera diikuti kemunculan Imam Mahdi.

 3.*Penghapusan kekhalifahan Utsmaniyah pada 1924*

Three Context of the use of the word PLEASE

 Please has three main grammatical uses: as a verb meaning “to make someone happy or satisfied”; as an adverb used to make a request polite; and as an interjection expressing a strong request, annoyance, or disbelief.dictionary.cambridge+1

Please as a verb

Use please as a verb when it takes an object and means to give pleasure or satisfaction. It can be transitive or intransitive.dictionary.cambridge+1

  • The gift pleased her. = The gift made her happy.

  • She tried to please her teacher. = She tried to satisfy her teacher.

  • Do as you please. = Do whatever you want.

  • I am pleased with the result. = I am satisfied with the result.

In this use, please changes form normally: please, pleases, pleased, pleasing.

Please as an adverb

Wednesday, October 21, 2026

"Childhood flew by, but the happy memories stay forever."

 



"Back in 1980, a neat-haired little boy from Pecangaan, Jepara, sat holding his favorite toy car with a sweet, playful smile.

Today, he is 51 years old—an English lecturer, a husband, and a loving father of two daughters.

Time flies so fast. In just the blink of an eye, childhood became a beautiful memory."




Tuesday, October 20, 2026

MATA NE IN JAPANESE VS MATANE IN JAVANESE

https://youtube.com/shorts/_aFutjXq_9Q?si=fjpalwbYlUiLHq4H

Kedua bentuk itu mirip secara bunyi tetapi sangat berbeda makna dan fungsi: mata ne dalam bahasa Jepang berarti “sampai jumpa lagi”, sedangkan matane dalam bahasa Jawa berarti “matamu” (mata milikmu).[journal.unnes.ac][journal.unram.ac]

Bahasa Jepang: mata ne

  • mata = “lagi”, “sekali lagi”, atau “nanti lagi”.
  • ne = partikel akhir yang berfungsi mencari persetujuan, melembutkan ucapan, atau menegaskan keakraban.
  • Gabungan mata ne lazim dipakai sebagai salam perpisahan informal: “Sampai jumpa lagi, ya.”[journal.unnes.ac][liputan6]
  • Contoh: Ja, mata ne! = “Ya, sampai jumpa lagi, ya!” Ucapan ini cocok untuk teman, tetapi kurang tepat untuk situasi sangat formal.[journal.unnes.ac][liputan6]

Bahasa Jawa: matane

  • mata = organ penglihatan, sama dengan “mata” dalam bahasa Indonesia.
  • -ne adalah klitika kepemilikan orang kedua dalam sejumlah ragam bahasa Jawa, setara dengan -mu: matane = matamu = “matamu”.[journal.unram.ac][eprints.undip.ac]
  • Dalam ragam baku/umum, bentuk yang lebih dikenal adalah matamu; matane lebih khas pada dialek tertentu, misalnya bahasa Jawa Banyumasan/Tegalan.[journal.unram.ac]
  • Contoh: Matane abang getihen = “Matamu abang berdarah.”
  • Dalam konteks umpatan atau ekspresi kasar, matamu/matane dapat dipakai untuk menyatakan bahwa lawan tutur “tidak bisa melihat” atau tidak peka.[eprints.undip.ac]

Blog Dr. Faizal Risdianto: 6 best free online paraphrasing tools

Blog Dr. Faizal Risdianto: 6 best free online paraphrasing tools: 6 best free online paraphrasing tools  best free online paraphrasing tools 1.  https://www.onlineparaphraser.com/ 2. https://quillbot.com/...