
QS. Al-Anfal ayat 24 menegaskan pentingnya menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagai jalan menuju kehidupan iman yang sejati. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” (QS. Al-Anfal [8]: 24). Ayat ini mengajarkan bahwa pembinaan iman harus dimulai dari kesediaan hati untuk menerima kebenaran, menaati petunjuk Allah, dan mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kekuatan batin yang menumbuhkan keikhlasan, ketakwaan, akhlak mulia, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Sejalan dengan itu, QS. Al-An'am ayat 122 menggambarkan perubahan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah. Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An'am [6]: 122).
Ayat ini menegaskan bahwa iman menghidupkan hati dan memberikan cahaya petunjuk untuk membedakan kebenaran dari kebatilan serta kebaikan dari keburukan. Cahaya iman tersebut harus tercermin dalam kehidupan nyata melalui ibadah, kejujuran, keadilan, kepedulian sosial, dan amal saleh. Dengan demikian, pembinaan iman dan hati tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi berkembang menjadi kesalehan sosial yang membawa manfaat bagi sesama.
Hubungan kedua ayat tersebut menunjukkan pola pembinaan yang utuh: menjawab panggilan Allah, menghidupkan hati dengan iman, memperoleh cahaya hidayah, memperkuat ketakwaan, dan mewujudkannya dalam amal saleh serta perjuangan dakwah. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri sekaligus mengajak sesama kepada kebaikan dengan hikmah, kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Perjuangan mendakwahkan iman dan amal saleh hendaknya berorientasi pada terwujudnya kehidupan yang adil, damai, bermartabat, dan penuh kepedulian, sejalan dengan misi Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya' [21]: 107). Oleh karena itu, iman yang kuat seharusnya melahirkan ketakwaan yang nyata, amal saleh yang berkelanjutan, serta dakwah yang menghadirkan rahmat dan kemaslahatan bagi seluruh alam.


