Friday, May 15, 2026

Membuat Jalan baru dan Tinggalkan jalan lama: 5 tips meninggalkan bad habit

Meninggalkan kebiasaan buruk bukanlah proses yang instan. Kata para Ulama kita bisa pergi lari ke ujung dunia. Kita bisa meninggalkan harta, kampung halaman dan orang-orang dekat kita tapi kemanapun kita pergi kebiasaan atau habit tetap melekat pada diri. Jika kebiasaan itu baik Alhamdulillah tetapi jika kebiasaan itu buruk sadarilah itu salah dan segeralah berubah. 

Kemudian, persoalannya ialah Banyak orang ingin berubah, tetapi akhirnya kembali pada kebiasaan lama karena perubahan memang membutuhkan waktu, kesabaran, dukungan sosial, dan lingkungan yang sehat. Namun, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk membuat “jalan baru” dalam hidupnya selama ia mau jujur pada diri sendiri dan terus berusaha bangkit.

(1)  Langkah pertama yang penting adalah menyadari bahwa masalah itu nyata. Perubahan dimulai ketika seseorang berhenti membenarkan perilaku yang merusak diri, kesehatan, hubungan, atau masa depan. Mengakui kelemahan bukan tanda kegagalan, melainkan tanda keberanian untuk memulai hidup yang lebih baik. Dalam proses ini, penting untuk berkata pada diri sendiri: “Saya akan menjalani proses ini tanpa menghakimi diri sendiri.” Kesalahan masa lalu tidak harus menjadi identitas hidup seseorang. Karena itu, seseorang juga perlu memahami bahwa perilaku buruk yang pernah dilakukan bukanlah jati dirinya. 

(2) Saya mengakui bahwa perilaku buruk saya bukanlah identitas saya. Seseorang bisa berubah dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat, lebih bijak, dan lebih kuat.

Selain itu, perubahan akan sulit terjadi jika seseorang tetap berada dalam lingkungan yang terus mendorong kebiasaan lama. Oleh karena itu, menjauhi pergaulan, tempat, atau situasi yang menjadi pemicu sangatlah penting. Lingkungan yang baik dapat membantu seseorang lebih fokus menjaga perubahan yang sedang dibangun. Pada saat yang sama, hidup juga perlu diisi dengan kegiatan yang lebih sehat dan bermakna. 

Pikiran yang kosong sering kali membuat seseorang kembali pada kebiasaan lama. Karena itu, waktu luang dapat diarahkan pada olahraga, membaca, belajar keterampilan baru, bekerja produktif, kegiatan sosial, ibadah, atau hobi positif lainnya. Dalam proses penyembuhan, seseorang juga perlu memberi ruang untuk merasakan emosi secara jujur tanpa terus menekan atau melarikan diri darinya. 

(3) “Saya memberi izin pada diri sendiri untuk menjadi rentan, mudah terdampak, dan saya mengakui saya rapuh secara emosional.” Penyembuhan sejati membutuhkan keberanian untuk menghadapi rasa takut, luka, dan perasaan yang selama ini disembunyikan.

Perubahan juga akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang terpercaya. Dukungan dari keluarga, sahabat, mentor, tokoh agama, konselor, atau tenaga profesional dapat membantu seseorang tetap kuat ketika semangat mulai menurun. Tidak semua perjuangan harus dipikul sendirian. Selain itu, penting untuk memahami bahwa perubahan besar biasanya dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Banyak orang gagal karena ingin melihat hasil instan dalam waktu singkat. Padahal, kemajuan kecil tetaplah kemajuan. 

Karena itu, seseorang perlu belajar menghargai dirinya sendiri dengan berkata: 

(4) “Saya akan merayakan setiap kemenangan kecil.” Bahkan keberhasilan sederhana, seperti mampu menahan diri satu hari lebih lama atau berhasil menjauhi lingkungan buruk, adalah bagian penting dari perjalanan perubahan. Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah kesempurnaan, tetapi komitmen untuk terus berjalan. 

(5) “Saya berkomitmen pada proses, bukan pada hasil instan.” Jika suatu hari terjatuh atau mengulangi kesalahan, jangan langsung menyerah. Jadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan menuju hidup yang lebih sehat dan bermakna. 

Untuk kasus seperti adiksi narkoba, kleptomania, perilaku kriminal berulang, atau gangguan psikologis tertentu, bantuan profesional dari psikolog, psikiater, dokter, atau lembaga rehabilitasi tetap sangat penting karena beberapa kondisi membutuhkan pendampingan medis dan terapi khusus.


Thursday, May 14, 2026

UIN Salatiga, 25 Professor dan 53 Doktor di data Mei 2026

Prof. Dr. Mansur, M.Ag.

Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag.

Prof. Dr. Muh. Saerozi, M.Ag.

Prof. Dr. Winarno, S.Si., M.Pd.

Prof. Dr. Phil Widiyanto., M.Ag., M.A.

Prof. Dr. Imam Sutomo, M.Ag.

Prof. Dr. Agus Waluyo, M.Ag.

Prof. Dr. Sa`adi, M. Ag.

Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag.

Prof. Dr. Benny Ridwan, M.Hum.

Prof. Kastolani, M.Ag., Ph.D.

Prof. Dr. Budiyono Saputro, M.Pd.

Prof. Dr. Mubasirun, M. Ag.

Prof. Dr. Mukti Ali, S.Ag., M.Hum.

Prof. Dr. Mochlasin, M.Ag.

Prof. Dr. Abdul Aziz N.P., S.Ag., M.M.

Prof. Dr. Rasimin, S.PdI., M.Pd.

Prof. Dr. Miftahuddin, M.Ag.

Prof. Dr. Supardi, S.Ag., M.A.

Prof. Dr. Siti Zumrotun, M.Ag.

Prof. Dr. Muh. Irfan Helmy, Lc., M.A.

Prof. Dr. Ilyya Muhsin, S.HI., M.Si.

Prof. Dr. Suwardi, S.Pd., M.Pd.

Tuesday, May 12, 2026

What Is English Language Imperialism?

What Is English Language Imperialism?

English language imperialism is the idea that English has become a dominant world language not just by chance, but through history—especially colonialism, economic power, and global education. This dominance often pushes local languages and cultures to the sidelines.

The Main Idea

In his famous 1992 book Linguistic Imperialism, scholar Robert Phillipson argued that the spread of English has created unfair conditions. It makes English seem more important than other languages, which harms multilingualism and indigenous tongues. He calls this "linguicism"—a prejudice in favor of English that works much like racism. For example, English gets more money and attention in schools than local languages.

How Did English Spread?

English spread through three types of colonization:

  • Trader colonization (commerce)

  • Settler colonization (moving populations, as in the US, Canada, and Australia)

  • Exploitation colonization (taking resources, as in India and Africa)

In settler colonies, indigenous languages nearly disappeared because of harsh policies like boarding schools. In exploitation colonies, local elites were taught English, which created a bigger gap between rich and poor. A famous example is the "Macaulay Minute" in British India, which promoted English over Indian languages.

Criticisms of This View

Not everyone agrees with Phillipson. Some critics say his view makes English teachers feel guilty and unfairly assumes that non-Western people have no choice. In reality, many people choose to learn English because it opens doors to jobs and opportunities. Also, a language itself isn't good or bad—it's the power structures around it that matter. In places like Cameroon and Vietnam, people have taken English and made it their own, fitting local needs.

Why This Matters Today

Instrumental and integrative attitude in Sociolinguistics

 In sociolinguistics, “instrumental” and “integrative” attitudes (or motivations) refer to two main psychological orientations toward learning or using a language, especially a second or foreign language.


1. Instrumental language attitude

An instrumental attitude toward a language means that a speaker learns or uses it mainly because it is practically useful—for example, to get a job, pass exams, earn more money, or gain social status. In this orientation, the language is seen as a tool rather than something to identify with culturally or emotionally.

Examples:

  • A student in Indonesia studies English mainly to pass a university entrance exam or apply for an international scholarship.

  • A local worker in Bali learns English because tourism jobs pay more and require English communication.

  • A university graduate learns Mandarin because it helps them get a promotion in a company that deals with Chinese clients.

In all these cases, the attitude is instrumental: the language is valued for its external benefits, not for bonding with native speakers or their culture.


2. Integrative language attitude

An integrative attitude toward a language means that the speaker wants to identify with or become closer to the community that uses that language. This attitude involves interest in the culture, lifestyle, and social world of the target‑language group, not just in the language itself.

Monday, May 11, 2026

Today's Indonesian Political News

Ade Armando resigns from PSI after incitement allegations

Politician Ade Armando has resigned from the Indonesian Solidarity Party (PSI) after dozens of Islamic organizations filed police reports against him over alleged incitement against former vice president Jusuf Kalla.

3 days ago

Politics premium

Abuse concerns linger over extremism prevention plan

The new Perpres notes that while Indonesia has seen a decline in terrorist attacks in recent years, including what it describes as “zero terrorist attacks” in the past two years, threats persist beneath the surface, with more than 1,000 suspected militants arrested between 2020 and 2024.

3 days ago
Politics premium

Reform team pushes demilitarization of police amid brutality concerns

The government-sanctioned police reform commission has proposed demilitarizing the work culture of the National Police as part of broader reforms, amid persistent cases of police brutality that have fueled public demands for systemic change within the institution.

3 days ago
Politics

Indonesia eyes e-commerce ban for under-16s: Minister

Ministry has found that children tend to fall victim to e-commerce scams, Meutya said.

4 days ago
Politics premium

Trial suspended again as Nadiem’s health declines

The Jakarta Corruption Court has once again postponed the trial of former education, culture, research and technology minister Nadiem Makarim on Tuesday after he was admitted to the hospital following a sudden decline in his health.

4 days ago
Politics premium

Oligarchic consolidation threat to Golden 2045 vision, LAB 45 says in new book

A newly published book by the Jakarta-based think tank examines eight decades of the country's history through various topics to explore three possible future trajectories, though only one will lead to fulfilling the Golden Indonesia 2045 vision.

5 days ago
Politics premium

Creeping militarization looms as battalions expand nationwide: CSIS