Thursday, October 15, 2026
China’s Mass Internment, Torture, and Persecution of Uygur Muslims in Xinjiang
Kisah Sahabat Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi R.A: Keteguhan Iman yang Tak Tergoyahkan oleh Siksaan dan Godaan Dunia
Pada masa pemerintahan Khalifah
Umar bin Khattab, Sahabat Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi radhiyallahu ‘anhu
menjadi salah satu anggota pasukan Muslim yang berperang melawan Romawi. Ketika
tertawan, ia dibawa menghadap Kaisar Romawi yang ingin menguji keteguhan
imannya. Sang kaisar menawarkan kebebasan, kekayaan, jabatan, bahkan sebagian
kerajaannya dengan syarat Sahabat Abdullah meninggalkan Islam dan memeluk agama
Nasrani. Namun, Sahabat Abdullah menolak seluruh tawaran tersebut dengan tegas
karena baginya, keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya jauh lebih berharga
daripada segala kemewahan dunia. Sikap ini sejalan dengan firman Allah SWT: QS.
Fussilat [41]: 30: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah
Allah,’ kemudian tetap istiqamah, akan turun malaikat-malaikat kepada mereka
(seraya berkata), ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah
dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”
Karena penolakannya, Sahabat Abdullah
mengalami berbagai bentuk penyiksaan. Ia disalib dan diperintahkan untuk
dipanah di dekat tangan serta kakinya. Ketika siksaan itu tidak berhasil
menggoyahkan imannya, Kaisar Romawi memerintahkan agar seorang tawanan Muslim
dimasukkan ke dalam minyak mendidih. Sahabat Abdullah tetap teguh meskipun
dirinya menghadapi ancaman yang sama. Ketika akhirnya ia menangis menjelang
hukuman tersebut, tangisannya bukan karena takut menghadapi kematian,
melainkan karena berharap memiliki banyak nyawa agar dapat terus berkorban di
jalan Allah. Sikap ini menunjukkan betapa kuat keyakinannya terhadap agama
yang dianutnya.
Melihat keteguhan Sahabat Abdullah,
Kaisar Romawi akhirnya menawarkan pembebasan dengan syarat Sahabat Abdullah
mencium kepalanya. Abdullah menyetujui tawaran tersebut setelah memastikan
bahwa seluruh tawanan Muslim lainnya juga akan dibebaskan. Ia rela melakukan
hal itu demi menyelamatkan saudara-saudaranya seiman. Keputusan tersebut
mencerminkan nilai itsar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain daripada
kepentingan pribadi. Setelah kembali ke Madinah, Sahabat Abdullah mendapat
penghormatan dari Khalifah Umar bin Khattab atas keberanian dan pengorbanannya
dalam menyelamatkan para tawanan Muslim. Sikap mengutamakan kepentingan sesama
ini sejalan dengan firman Allah SWT: QS. Al-Hasyr [59]: 9: “Mereka mengutamakan
(orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga
memerlukan.”
Kisah Sahabat Abdullah bin
Hudzafah mengajarkan bahwa iman tidak boleh ditukar dengan harta, jabatan,
kekuasaan, ataupun keselamatan pribadi. Keteguhan tersebut selaras dengan pesan
QS. Fussilat ayat 30 tentang orang-orang yang beriman dan istiqamah, serta
ajaran Islam mengenai persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama. Keberanian
sejati bukan sekadar kesanggupan menghadapi bahaya, melainkan juga kemampuan
mempertahankan prinsip kebenaran dan mengutamakan keselamatan orang lain. Dalam
kehidupan sehari-hari, keteladanan Abdullah mengajak umat Islam untuk menjaga keimanan,
bersabar menghadapi ujian, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan.
Selain keteguhan iman, kisah ini
juga mengingatkan bahwa kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah
pasukan atau kekuatan materi, melainkan oleh pertolongan Allah yang disertai
keimanan, kesabaran, dan ikhtiar. Pesan tersebut tercermin dalam QS. Al-Baqarah
ayat 249: Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin
Allah. Allah bersama orang-orang yang sabar.” Ayat ini bercerita tentang
pasukan Thalut (pasukan Muslim berjumlah kecil) yang menang menghadapi Jalut
yang jumlah pasukan lebih besar. QS. At-Taubah ayat 25 yang mengingatkan bahwa
jumlah pasukan yang besar tidak selalu menjamin kemenangan. QS 9:25 “Sungguh,
Allah benar-benar telah menolong kamu di medan peperangan yang banyak dan pada
hari (Perang) Hunain ketika banyaknya jumlahmu menakjubkanmu, sehingga jumlahmu
yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun.”
Di sisi yang lain asbab dzohir boleh
digunakan seperti di QS. Al-Anfal ayat 60 yang menegaskan pentingnya
mempersiapkan kekuatan yang diperlukan. QS. 8:60: “Persiapkanlah untuk
(menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan.”. Asbab dzhohir boleh
digunakan asal keyakinan tetap kepada pertolongan Allah SWT.
Semoga Allah SWT selalu
memberi kita hidayah dan Taufiq untuk meneladani pengorbanan Abdullah
bin Hudzafah dalam membela iman dan menyelamatkan sesama.
Tuesday, October 13, 2026
Compilation of Parts of Speech Exercise
Parts of speech exercise 1 13 QUESTIONS
Parts of speech exercise (englishgrammar.org)
Parts of speech exercise 2
Parts of Speech Quiz | Learn English (englishclub.com)
Parts of speech exercise 3
Grammar Exercise: Parts Of Speech - My English Pages
Parts of speech exercise 4
Parts of Speech in English - Exercise (englisch-hilfen.de)
Parts of speech exercise 5
Which part of speech? exercise 1 (ESL) (learnenglishfeelgood.com)
More parts of speech exercises
Parts of Speech Exercises - Javatpoint
partsspeech.pdf (bergen.edu)
Parts of Speech Exercises with Answers (byjus.com)
parts-of-speech-exercise-1.pdf (wordpress.com)
Materi Part Of Speech: Contoh Kalimat, Soal, dan Pembahasan (gramedia.com)
Monday, October 12, 2026
Uyghur genocide committed by China. Did anybody care?
Uyghur genocide committed by China. Did anybody care?
Do you know how big the Chinese-occupied East Turkistan is? 1/6 of China's territories, 3 sizes of France, 4 sizes of Germany.
How many Uyghurs have been affected? 25 million. According to a Chinese government report in 2018, more than 8 million Uyghurs and other Turkic people were put in concentration camps.
Do you know how Chinese have tortured and killed Uyghurs? Organ harvesting, mass rape, and gang rape: many Uyghurs dropped dead after eating in concentration camps. Uyghurs were used for testing and developing biological and chemical weapons, including covid-19.
Have you ever cared like you care for Palestinian cases? No.
Saturday, October 10, 2026
TAFSIR QS. Al Anfaal 24 dan QS Qs al an'am 122

QS. Al-Anfal ayat 24 menegaskan pentingnya menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagai jalan menuju kehidupan iman yang sejati. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” (QS. Al-Anfal [8]: 24). Ayat ini mengajarkan bahwa pembinaan iman harus dimulai dari kesediaan hati untuk menerima kebenaran, menaati petunjuk Allah, dan mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kekuatan batin yang menumbuhkan keikhlasan, ketakwaan, akhlak mulia, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
Sejalan dengan itu, QS. Al-An'am ayat 122 menggambarkan perubahan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah. Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An'am [6]: 122).
Ayat ini menegaskan bahwa iman menghidupkan hati dan memberikan cahaya petunjuk untuk membedakan kebenaran dari kebatilan serta kebaikan dari keburukan. Cahaya iman tersebut harus tercermin dalam kehidupan nyata melalui ibadah, kejujuran, keadilan, kepedulian sosial, dan amal saleh. Dengan demikian, pembinaan iman dan hati tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi berkembang menjadi kesalehan sosial yang membawa manfaat bagi sesama.
Hubungan kedua ayat tersebut menunjukkan pola pembinaan yang utuh: menjawab panggilan Allah, menghidupkan hati dengan iman, memperoleh cahaya hidayah, memperkuat ketakwaan, dan mewujudkannya dalam amal saleh serta perjuangan dakwah. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri sekaligus mengajak sesama kepada kebaikan dengan hikmah, kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Perjuangan mendakwahkan iman dan amal saleh hendaknya berorientasi pada terwujudnya kehidupan yang adil, damai, bermartabat, dan penuh kepedulian, sejalan dengan misi Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya' [21]: 107). Oleh karena itu, iman yang kuat seharusnya melahirkan ketakwaan yang nyata, amal saleh yang berkelanjutan, serta dakwah yang menghadirkan rahmat dan kemaslahatan bagi seluruh alam.



.jpg)
