Manusia, Fitrah, dan Jalan Kembali kepada Allah
Ustadz Dr. Joko Ali Wasono menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat potensi kebaikan yang merupakan pantulan dari Asmaul Husna, meskipun hanya sebagai “percikan kecil” dari sifat-sifat kesempurnaan Allah. Manusia diberi kemampuan mencintai, menyayangi, berbuat adil, memaafkan, dan menunjukkan kebijaksanaan. Semua itu bukan karena manusia memiliki sifat ketuhanan, tetapi karena Allah menganugerahkan potensi luhur dalam batas sebagai makhluk.
Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah:
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya, serta menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”(QS As-Sajdah [32]: 9)
Juga firman-Nya:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ“Apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”(QS Al-Hijr [15]: 29)
Dan dalam ayat lain:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن طِينٍ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ“Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”(QS Shad [38]: 71–72)
Tafsir dan Makna
Para ulama menjelaskan bahwa frasa “roh-Ku” bukan berarti bagian dari dzat Allah masuk ke dalam manusia, melainkan roh ciptaan Allah yang dimuliakan. Ayat ini menunjukkan kemuliaan manusia dibanding makhluk lain karena diberi akal, hati, dan tanggung jawab moral. Karena itu, manusia semestinya mengembangkan sifat kasih sayang, kebijaksanaan, kejujuran, dan keadilan.
Allah Sangat Dekat dengan Manusia
Manusia sering merasa sendiri, padahal Allah tidak pernah jauh. Kedekatan Allah ditegaskan dalam Al-Qur’an:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ... وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ“Dialah yang menciptakan langit dan bumi... dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS Al-Hadid [57]: 4)
Dan firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ“Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”(QS Qaf [50]: 16)
Tafsir dan Makna
Kedekatan Allah bukan berarti Allah menyatu dengan makhluk, tetapi dekat dengan ilmu, pengawasan, kasih sayang, dan pertolongan-Nya. Tidak ada bisikan hati, kesedihan, atau air mata yang luput dari pengetahuan-Nya. Karena itu, seorang mukmin tidak perlu putus asa.


