Monday, October 12, 2026

Uyghur genocide committed by China. Did anybody care?

Uyghur genocide committed by China. Did anybody care?

Do you know how big the Chinese-occupied East Turkistan is? 1/6 of China's territories, 3 sizes of France, 4 sizes of Germany. 

How many Uyghurs have been affected? 25 million. According to a Chinese government report in 2018, more than 8 million Uyghurs and other Turkic people were put in concentration camps. 

Do you know how Chinese have tortured and killed Uyghurs? Organ harvesting, mass rape, and gang rape: many Uyghurs dropped dead after eating in concentration camps. Uyghurs were used for testing and developing biological and chemical weapons, including covid-19. 

Have you ever cared like you care for Palestinian cases? No.



Saturday, October 10, 2026

TAFSIR QS. Al Anfaal 24 dan QS Qs al an'am 122


 QS. Al-Anfal ayat 24 menegaskan pentingnya menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagai jalan menuju kehidupan iman yang sejati. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” (QS. Al-Anfal [8]: 24). Ayat ini mengajarkan bahwa pembinaan iman harus dimulai dari kesediaan hati untuk menerima kebenaran, menaati petunjuk Allah, dan mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan kekuatan batin yang menumbuhkan keikhlasan, ketakwaan, akhlak mulia, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.

Sejalan dengan itu, QS. Al-An'am ayat 122 menggambarkan perubahan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah. Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An'am [6]: 122). 

Ayat ini menegaskan bahwa iman menghidupkan hati dan memberikan cahaya petunjuk untuk membedakan kebenaran dari kebatilan serta kebaikan dari keburukan. Cahaya iman tersebut harus tercermin dalam kehidupan nyata melalui ibadah, kejujuran, keadilan, kepedulian sosial, dan amal saleh. Dengan demikian, pembinaan iman dan hati tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi berkembang menjadi kesalehan sosial yang membawa manfaat bagi sesama.

Hubungan kedua ayat tersebut menunjukkan pola pembinaan yang utuh: menjawab panggilan Allah, menghidupkan hati dengan iman, memperoleh cahaya hidayah, memperkuat ketakwaan, dan mewujudkannya dalam amal saleh serta perjuangan dakwah. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri sekaligus mengajak sesama kepada kebaikan dengan hikmah, kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Perjuangan mendakwahkan iman dan amal saleh hendaknya berorientasi pada terwujudnya kehidupan yang adil, damai, bermartabat, dan penuh kepedulian, sejalan dengan misi Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya' [21]: 107). Oleh karena itu, iman yang kuat seharusnya melahirkan ketakwaan yang nyata, amal saleh yang berkelanjutan, serta dakwah yang menghadirkan rahmat dan kemaslahatan bagi seluruh alam.



NEW BOOK 2026: UNDERSTANDING APPRAISAL & IDEOLOGY

 

https://drive.google.com/file/d/1HNTqik1LhJhZN1bAfjyddLomQ4RvCdEA/view?usp=sharing

PegiatJurnal.com: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga

PegiatJurnal.com: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga: Link SIAKAD atau LINK AKADEMIK DOSEN UIN Salatiga https://siakad.uinsalatiga.ac.id/dosen/ at January 04, 2024 Email This BlogThis! Share ...

Friday, October 9, 2026

Lawan Krisis Etika Digital Remaja, Akademisi Gagas Pembelajaran Bahasa Berbasis Nilai Moral

SALATIGA (Saiaaayya akan lawanddddd :)-Perkembangan media sosial yang masif di kalangan pemuda membawa dampak serius terhadap pelanggaran etika digital, penyebaran hoaks, hingga perundungan siber (cyberbullying). Menanggapi krisis tersebut, 2026 Annual International Interdiciplinary Conference and Research Expo (AIICARE) UIN Salatiga menghadirkan kolaborasi pemikiran multidisiplin yang menyoroti akar masalah sekaligus solusi pedagogis konkret di ruang kelas.

Temuan riset internasional yang dipaparkan oleh Farhana Zaman, Ph.D dan Ashek Mahmud, Ph.D (Jagannath University, Dhaka, Bangladesh) mengungkap bahwa 52% pemuda menilai pendidikan etika digital di sekolah masih sangat kurang terstruktur, sementara 48% lainnya menyoroti ketiadaan kebijakan etika digital yang formal. Hal itu mengakibatkan tingginya Composite Challenge Index (47%) dalam penerapan standar etika di media sosial.




Menjawab kesenjangan tersebut, riset terbaru dari Dr. Faizal Risdianto (UIN Salatiga) bersama Nadira Syifa Azzahro dalam Journal of Linguistics, Culture and Communication menawarkan solusi strategis melalui penguatan peran pendidik. Dalam studi terhadap 82 praktisi pendidikan bahasa Inggris (English Language Teaching/ELT) di Indonesia tersebut dipaparkan bahwa pengajaran bahasa tidak boleh dilepaskan dari pembentukan karakter dan etika moral (value integration). “Pengajaran bahasa merupakan media strategis untuk membina kewarganegaraan digital (digital citizenship) yang beretika,” ujar Dr. Faizal Risdianto.

Dalam risetnya, Faizal Risdianto mengungkapkan pendekatan “Dual Mandate” yang adaptif terhadap keberagaman lembaga pendidikan di Indonesia yaitu: pendekatan eksplisit (faith-driven approach) dan pendekatan implisit (universal approach). Inovasi pedagogis tersebut menjadi jawaban atas minimnya pengajaran etika terstruktur yang dikeluhkan oleh mayoritas remaja dalam riset media sosial. Integrasi nilai moral baik secara eksplisit maupun universal akan menjadi benteng etika yang kuat bagi remaja saat berinteraksi di dunia digital. (nhl-UIN Salatiga)