*Sejarah penderitaan panjang Ummat Islam dan pertanyaan tentang Imam Mahdi*
Sejarah umat Islam bukan hanya kisah kejayaan, tetapi juga lembaran panjang penderitaan: pertumpahan darah, perpecahan, penaklukan, penjajahan, dan hilangnya kekuasaan politik. Dari konflik pada masa sahabat hingga kehancuran pusat peradaban, dari runtuhnya kekhalifahan Utsmaniyah hingga pembantaian warga sipil pada masa kolonial, umat Islam berulang kali menghadapi tragedi. Semua itu memunculkan pertanyaan mendalam: mengapa umat Islam mengalami penderitaan begitu panjang, sementara Imam Mahdi yang dinantikan belum muncul? Pertanyaan ini bukan sekadar soal waktu, tetapi menyangkut cara memahami janji keadilan Allah di tengah ketidakadilan yang berlangsung berabad-abad.
1. *Luka dari dalam: konflik politik masa sahabat (656 dan 661 M)*
Tragedi awal terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan R.A. Pada 656 M, sekelompok pemberontak mengepung kediamannya di Madinah dan membunuhnya. Setelah Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi khalifah, pemerintahannya berlangsung di tengah ketegangan: Perang Jamal pada 656 M dan Perang Shiffin pada 657 M, yang kemudian memunculkan kelompok Khawarij. Pada 661 M, Ali diserang oleh seorang anggota kelompok tersebut di Kufah dan meninggal akibat luka-lukanya. Keduanya bagian dari rangkaian konflik yang dikenal sebagai fitnah pertama. Pelajarannya: penderitaan umat Islam tidak selalu datang dari luar, tetapi juga dari perebutan kekuasaan dan kegagalan menyelesaikan konflik secara damai. Secara historis, kita hanya dapat memastikan peristiwa itu terjadi dan Imam Mahdi tidak tampil sebagai tokoh sejarah yang dapat diidentifikasi untuk menghentikannya;
2. *Luka dari luar: kehancuran Baghdad pada 1258 M*
Pada abad ke-13, Baghdad adalah ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah dan pusat penting ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta perdagangan. Pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan mengepung dan merebut kota itu pada awal 1258 M; Khalifah al-Musta'sim Billah terbunuh, disertai penjarahan, pembunuhan, dan kehancuran berbagai bagian kota. Kisah Sungai Tigris yang menghitam karena tinta buku dan memerah karena darah terkenal dalam tradisi narasi, meskipun jumlah korban pastinya masih diperdebatkan sejarawan. Apa pun angka pastinya, peristiwa ini menjadi pukulan besar bagi tatanan politik dan kebudayaan Abbasiyah. Dalam perspektif sejarah, kehancuran itu dapat dijelaskan melalui ekspansi militer Mongol, kelemahan politik Abbasiyah, dan dinamika kekuasaan regional; tidak ada dasar cukup untuk memastikan setiap bencana besar harus segera diikuti kemunculan Imam Mahdi.
3.*Penghapusan kekhalifahan Utsmaniyah pada 1924*


