Pengantar Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan pada eksistensi individu—kebebasan, pilihan, tanggung jawab, serta pengalaman subjektif manusia—sebagai titik tolak utama, bukan esensi atau hakikat yang sudah ditentukan sebelumnya. Pepatah kunci eksistensialisme dari Jean-Paul Sartre adalah "eksistensi mendahului esensi", artinya manusia tidak dilahirkan dengan hakikat atau tujuan yang sudah tetap; ia pertama-tama "berada" di dunia, kemudian melalui tindakan dan pilihannya ia membentuk dirinya sendiri. Tokoh-tokoh utama aliran ini meliputi Søren Kierkegaard (iman dan keputusasaan), Friedrich Nietzsche (kehendak untuk berkuasa), Jean-Paul Sartre (kebebasan mutlak), Albert Camus (absurditas), serta Martin Heidegger (kesadaran akan kematian). Tema-tema sentralnya meliputi kebebasan radikal, kecemasan, absurditas, autentisitas, kematian, dan alienasi.
Pelajaran Eksistensialis dalam Metamorfosis: Faktisitas
Dalam Metamorfosis karya Franz Kafka, Gregor Samsa tiba-tiba menyadari tubuhnya berubah menjadi serangga raksasa yang menjijikkan. Ia tidak memilih perubahan ini dan tidak bisa mengendalikannya—inilah yang dalam eksistensialisme disebut faktisitas (facticité): kondisi faktual yang diberikan kepada eksistensi. Pelajaran filosofisnya adalah bahwa manusia selalu "terlempar" ke dalam situasi tertentu seperti tubuh, keluarga, kelas sosial, dan sejarah; kita tidak memilih titik awal kita, tetapi kita bertanggung jawab atas bagaimana kita menyikapinya. Gregor awalnya mencoba beradaptasi, namun tubuh barunya justru membatasi gerak dan komunikasinya secara drastis.
Alienasi dan Hidup Tidak Autentik
Kafka juga menggambarkan alienasi atau keterasingan Gregor dari diri sendiri dan keluarganya. Dari sisi pekerjaan, Gregor benci menjadi salesman keliling, tetapi ia terus melakukannya hanya untuk membayar hutang orang tuanya—ini adalah hidup tidak autentik karena ia menjalani hidup orang lain, bukan miliknya sendiri. Dari sisi keluarga, setelah berubah menjadi serangga, keluarganya perlahan menjauh: dari perhatian palsu menjadi jijik dan akhirnya mengabaikannya sampai mati. Pelajarannya, masyarakat modern cenderung menghargai seseorang hanya selama ia produktif dan berguna; ketika Gregor tidak lagi bisa bekerja, ia kehilangan nilainya di mata keluarganya. Ini merupakan kritik Kafka terhadap instrumentalisme dalam hubungan antarmanusia.
Bad Faith dan Absurditas
Keluarga Samsa sebenarnya bebas untuk tetap mengasihi Gregor meskipun ia berubah menjadi serangga, tetapi mereka memilih untuk tidak melakukannya. Mereka menggunakan transformasi Gregor sebagai alasan untuk membenci dan mengabaikannya—ini adalah bentuk bad faith (kepercayaan palsu), yaitu berpura-pura tidak punya pilihan. Eksistensialisme mengajarkan bahwa kita selalu punya pilihan, dan keluarga Gregor secara sadar memilih untuk merasa lega ketika ia mati. Lebih jauh, Gregor mati kelaparan dengan cara yang menyedihkan dan tidak bermakna, namun keluarganya justru lega dan merencanakan liburan. Inilah absurditas: ketegangan antara keinginan manusia akan makna dengan realitas semesta yang tidak peduli, seperti yang dijelaskan Camus.
Kematian sebagai Pemantik Keaslian
Dalam Being and Time, Heidegger mengatakan bahwa kesadaran akan kematian (Sein-zum-Tode) membuat seseorang hidup autentik. Gregor menyadari ia sekarat perlahan, tetapi ia tidak pernah benar-benar memilih bagaimana ia ingin mati; ia mati sebagai korban, bukan agen. Sebaliknya, setelah Gregor mati, keluarga Samsa justru hidup kembali: mereka berencana pindah apartemen, dan putri Grete meregangkan otot-otot mudanya. Kafka dengan ironis menunjukkan bahwa kematian satu orang menjadi kebebasan bagi yang lain, sekaligus mengajarkan bahwa menunda kesadaran akan kematian adalah kebodohan. Kesimpulan filosofisnya, Metamorfosis adalah alegori tentang kehilangan fungsi sosial dan peringatan agar kita tidak menjadi seperti Gregor—hidup untuk orang lain dan mati sebagai beban yang dibuang.
Pengantar Perbandingan Eksistensialisme dengan Islam
Setelah memahami eksistensialisme dan pelajarannya dalam Metamorfosis, muncul pertanyaan penting: apakah aliran eksistensialisme itu baik menurut ajaran agama Islam? Pertanyaan ini mendalam dan memerlukan kehati-hatian karena eksistensialisme bukan satu aliran tunggal, melainkan kumpulan pemikiran dari tokoh-tokoh yang sangat berbeda seperti Sartre, Camus, Kierkegaard, dan Heidegger. Sementara itu, Islam memiliki kerangka teologis yang spesifik tentang manusia, takdir, dan kebebasan. Berikut adalah analisis tentang aspek mana dari eksistensialisme yang bertentangan dengan Islam dan mana yang sejalan, berdasarkan prinsip-prinsip akidah Ahlusunnah wal Jama'ah.
Aspek Eksistensialisme yang Bertentangan dengan Islam (Bagian 1)
Aspek pertama yang bertentangan adalah paham "eksistensi mendahului esensi" dari Sartre, yang menyatakan bahwa manusia lahir kosong tanpa tujuan bawaan, dan tidak ada Tuhan serta tidak ada hakikat manusia yang telah ditentukan. Islam justru mengajarkan sebaliknya: esensi mendahului eksistensi, karena Allah SWT menciptakan manusia dengan fitrah, tujuan, dan kodrat tertentu sebelum manusia lahir ke dunia. QS. Adz-Dzariyat (51):56 menegaskan, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku," sehingga manusia memiliki esensi sebagai hamba ('abd) dan khalifah sebelum ia eksis. Aspek kedua adalah kebebasan radikal dan ateisme: Sartre mengatakan manusia "dikutuk bebas" karena tidak ada Tuhan yang menentukan nilai. Islam mengajarkan bahwa kebebasan manusia terbatas (mukhayyar namun juga musayyar), karena ada takdir (qadha dan qadar) serta syariat sebagai batasan etis, sebagaimana QS. Al-Insan (76):3 menyatakan bahwa Allah telah menunjukkan jalan yang lurus, dan manusia tinggal memilih apakah akan bersyukur atau kufur.
Aspek Eksistensialisme yang Bertentangan dengan Islam (Bagian 2)
Aspek ketiga yang bertentangan adalah absurditas ala Camus, yang berpendapat bahwa alam semesta tidak peduli pada manusia dan pencarian makna hanyalah benturan absurd antara hasrat manusia akan makna dengan realitas yang hampa. Islam menolak pandangan ini dengan tegas karena dunia penuh dengan makna dan tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat). QS. Ali 'Imran (3):191 menyatakan, "Ya Tuhan kami, tiada Engkau ciptakan ini dengan sia-sia." Dalam perspektif Islam, musibah, penderitaan, bahkan kematian serangga seperti Gregor Samsa memiliki hikmah dan ujian dari Allah. Dengan demikian, fondasi metafisik eksistensialisme terutama dari Sartre dan Camus—yang menolak Tuhan, takdir, dan makna ilahi—secara langsung bertentangan dengan tiga pilar utama Islam.
Aspek Eksistensialisme yang Sejalan dengan Islam
Menariknya, beberapa tekanan eksistensialisme justru sangat Islami, terutama jika merujuk pada tokoh eksistensialisme teis seperti Søren Kierkegaard. Pertama, soal tanggung jawab individu: eksistensialisme mengatakan "kamu adalah pilihanmu, tidak ada alasan," sementara Islam menegaskan bahwa setiap jiwa akan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri (QS. Fathir 35:18). Dalam Metamorfosis, keluarga Samsa tidak bisa menyalahkan serangga Gregor karena mereka sendirilah yang memilih untuk mengabaikannya. Kedua, autentisitas versus hidup pura-pura: eksistensialisme menolak bad faith, sementara Islam secara tegas menolak riya' (pura-pura), nifaq (munafik), dan ittiba' buta terhadap tradisi tanpa ilmu (QS. Al-Maidah 5:104). Gregor yang bekerja sebagai salesman meskipun benci, hanya untuk hutang orang tua, adalah contoh hidup tidak autentik yang juga tidak disukai dalam Islam karena kurangnya kesadaran niat dan kejujuran pada diri sendiri.
Kesadaran Mati, Keputusasaan, dan Tabel Perbandingan
Ketiga, kesadaran akan kematian: eksistensialisme mengatakan sadar akan kematian membuat hidup lebih bermakna, sementara Islam jauh lebih tegas dengan sabda Nabi, "Ingatlah pemutus kenikmatan (kematian)" (HR. Tirmidzi) dan perkataan Umar bin Khattab, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab." Keempat, keputusasaan sebagai jalan menuju Tuhan: bagi Kierkegaard, keputusasaan adalah awal dari iman sejati, sementara Islam mengajarkan bahwa ujian dan kesulitan harus berakhir dengan tawakkal kepada Allah (QS. Al-Baqarah 2:155-156). Perbedaannya, dalam Islam keputusasaan tidak berakhir dengan kematian absurd seperti Gregor, melainkan dengan kembali kepada Allah. Secara ringkas, aspek yang sejalan meliputi tanggung jawab penuh, autentisitas, dan kesadaran mati; sedangkan yang bertentangan adalah ketiadaan Tuhan, tujuan manusia yang dibuat sendiri, kebebasan tanpa batas, serta pandangan bahwa penderitaan tidak bermakna.
Kesimpulan dan Saran untuk Muslim
Kesimpulannya, eksistensialisme tidak bisa dikatakan "baik" secara keseluruhan menurut Islam karena fondasi metafisiknya (terutama Sartre dan Camus) secara langsung menolak Tuhan, takdir, dan makna ilahi. Eksistensialisme sebagai aliran filsafat yang ateistik dan mengabsolutkan kebebasan tanpa Tuhan adalah sesat. Namun, beberapa sikap eksistensial seperti mengambil tanggung jawab penuh atas pilihan sendiri, hidup autentik tanpa kemunafikan, sadar akan kematian, dan tidak menyalahkan orang lain atas nasib buruk adalah nilai-nilai yang sangat Islami, bahkan diajarkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah jauh sebelum eksistensialisme lahir.
Seorang Muslim boleh mengambil pelajaran moral dari cerita seperti Metamorfosis—tentang bahaya alienasi, pentingnya autentisitas, dan konsekuensi mengabaikan tanggung jawab keluarga—selama tidak mengimani premis ateistik dan absurditasnya. Saran untuk Muslim: bacalah eksistensialisme secara kritis seperti membaca puisi, ambil makna simboliknya tetapi saring dengan Al-Qur'an dan Sunnah; jangan pernah mengadopsi paham "tidak ada Tuhan" atau "dunia absurd tanpa makna"; sebaliknya, bacalah filsuf eksistensialisme yang teis seperti Kierkegaard karena lebih aman dan dekat dengan struktur iman Ibrahimik.