Bayan Subuh : Maulana Ahmad Lath

 New Delhi, India Bayan Subuh, Bayan Maulana Ahmad Lath

Assalamu alaikum Wr Wb.

Alhamdulillah, Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, shalawat serta salam kita panjatkankan kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya yang mulia dan para sahabat yang agung, juga kepada pengikutnya yang setia hingga akhir zaman, bahwasanya kita semuanya masih diberikan kesehatan dan kesempatan pada hari ini untuk sama-sama melaksanakan perintah-Nya dan beribadah kepada Allah SWT.Segala sesuatu ada awalnya dan ada akhirnya, tetapi Allah adalah yang pertama yang tidak punya awal (The First that have no beginning) dan yang terakhir tetapi tidak punya pengakhiran (The last that have no end). Setiap ciptaan punya kehidupan dan kematian, tetapi Allah adalah yang hidup dan yang tidak pernah mati. Bahkan Allah yang menghidupkan, memberi kehidupan, dan yang mematikan, lalu membangkitkannya ciptaanNya. 

Segala sesuatu yang mempunyai awal dan akhir telah dicatat di lauh mahfudz. Seseorang tidak dapat menghindari atau lari dari Rizki sebagaimana mereka tidak dapat lari dari kematian. Perkara ini telah Allah tetapkan di dalam Lauh Mahfudz 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan segala sesuatu. Mati akan datang kepada kita walaupun kita dilindungi oleh benteng yang paling kuat. Dan Rizki akan datang kepada kita walaupun kita bersembunyi ditempat yang tidak diketahui manusia. Rizki dan Mati ini perkara yang tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin seseorang mati sebelum rizkinya habis. Mati ini akan datang setelah rizki kita habis. Tidak ada satu mahlukpun yang mati kekurangan rizki, mati dan rizki ini telah ditentukan. Mati ini ketentuan Allah, dan Rizkipun ketentuan Allah, namun Allah berikan kita asbab-asbab kematian dan rizki untuk menguji keyakinan kita.

Allah Maha mengetahui segala kejadian, dan segala kejadian ini adalah hasil kerjanya Allah Ta’ala. Seluruh Alam ini bergerak atas Qudrat dan IradahNya, Kekuasaan dan KehendakNya. Tidak ada sesuatu yang dapat terjadi diluar izin Allah Ta’ala, semuanya harus ada izin Allah. Semua yang bergerak atas dasar ketaatan akan membawa Ridho Allah, dan semua yang bergerak atas kemaksiatan kepada Allah akan membawa murkanya. Semua yang terjadi dimasa lalu dan dimasa akan datang adalah perkara lama bagi Allah, bukan hal baru, semuanya telah Allah ketahui.

Lima Poin Penting Optimalisasi authorship mahasiswa untuk mendapatkan Beasiswa dan berkompetisi

 1. Peran Karya Ilmiah dalam Pengembangan Mahasiswa, 

2. Teknik Menulis Karya Ilmiah yang Baik dan Sistematis 

 3. Strategi Publikasi untuk Karier Akademik , 

4. Optimalisasi Karya Ilmiah untuk Beasiswa dan Kompetisi . 

5. Manajemen Waktu dan Motivasi dalam Menulis


1. Peran Karya Ilmiah dalam Pengembangan Mahasiswa

Karya ilmiah berfungsi sebagai alat untuk menggali pengetahuan dan mendalami topik secara lebih mendalam. Bagi mahasiswa, ini adalah sarana penting dalam mengasah kemampuan analisis, kritis, dan berpikir logis. Melalui penulisan karya ilmiah, mahasiswa belajar untuk menyusun argumen yang koheren, mengelola data, serta menemukan solusi terhadap masalah-masalah ilmiah yang dihadapi. Ini mendukung perkembangan intelektual mereka, tidak hanya dalam bidang studi, tetapi juga dalam kehidupan profesional di masa depan.

Selain itu, karya ilmiah mengajarkan mahasiswa untuk menghargai etika ilmiah, seperti kejujuran, transparansi, dan penghargaan terhadap karya orang lain. Dengan menulis dan merujuk pada karya ilmiah lain, mahasiswa belajar pentingnya memberikan kredit yang tepat pada sumber-sumber yang digunakan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kredibilitas mereka tetapi juga memperdalam pemahaman mereka tentang bagaimana ilmu pengetahuan berkembang.

Karya ilmiah juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam diskusi ilmiah yang lebih luas. Penulisan dan publikasi karya ilmiah memungkinkan mahasiswa berinteraksi dengan peneliti dan akademisi lain, serta memamerkan hasil pemikiran dan penelitian mereka kepada dunia akademis. Ini memberikan mereka kesempatan untuk membangun reputasi dan jaringan profesional yang berharga untuk karier masa depan.

2. Teknik Menulis Karya Ilmiah yang Baik dan Sistematis

SEARLE’S CLASSIFICATION OF SPEECH ACTS

  SEARLE’S CLASSIFICATION OF SPEECH ACTS



NO

TYPE

DESCRIPTION

1

Assertive/

Representative

Assertives involve the speaker expressing their beliefs about what is true or false. They can take the form of stating facts, making assertions, drawing conclusions, and describing things. Essentially, the speaker makes statements that they feel are true or want others to believe them (Yule, 1996).

EXAMPLE:

I believe that social media contributes to body image issues - expresses a personal opinion through the use of the word ‘believe’

2

Declarative/

Verdictive

According to Searle (1969), declaratives are a type of speech act that can alter the state of the world through uttering them. To make a declaration correctly, the speaker must have a particular institutional position and be in a specific context.

EXAMPLE:

In a wedding ceremony, an officiant might say, I now pronounce you husband and wife would formally declare the couple as married.

3

Expressive

Expressives refer to speech acts in which the speaker expresses their emotional state or psychological experience. Expressives emphasize the speaker's feelings, attitudes, and per- perspectives in a particular situation (Yule, 1996).

EXAMPLE

These speech acts can involve statements of pleasure (e.g., This is great!), pain (e.g., That hurts, ouch!), likes (e.g., This tastes so good), dislikes (e.g., I don’t like this), joy (e.g., This is the best day ever!), or sorrow (e.g., I am sorry to hear that).

4

Directive/

Command

Directives refer to speech acts speakers use to instruct the hearer to perform a particular action (Searle, 1969).

EXAMPLE

Please stop talking! - a request to have someone be quiet about the speaker's desires and can take the form of commands, orders, requests, and suggestions. Directives can be either positive or negative

5

Commisive

Searle (1969) explains that commissives refer to speech acts in which the speaker commits to a future action. These speech acts reveal the speaker's intentions and can be promises, threats, refusals, and pledges. Commissives can be made by an individual or by a group of speakers.

EXAMPLE

I promise I will be there by 9 a.m. - expresses a commitment to be punctual.

 

 

                               

                               

                                                

92 papers of REGISTER JOURNAL available in Scopus Database

 

Dear authors, Editors, and Reviewers,

Great many thanks to Allah SWT for making 92 papers of REGISTER JOURNAL available in the Scopus database. Click this file to see the list of 92 papers that received Scopus citations as secondary documents.

Klasifikasi tindak tutur ilokusi menurut John Searle

 


John Searle mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima kategori: asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif[1][2][5][6].

Berikut adalah penjelasan dari masing-masing kategori beserta contohnya:

*   **Asertif (Assertive)**: Tindak tutur yang menyatakan suatu kepercayaan atau pandangan pribadi terhadap suatu pernyataan atau informasi[2][10]. Penutur meyakini kebenaran pernyataan tersebut dan berusaha meyakinkan pendengar[10].

    *   Bahasa Indonesia: "Saya yakin dia akan datang tepat waktu."

    *   Bahasa Inggris: "I believe he will arrive on time."

 **Direktif (Directive)**: Tindak tutur yang bertujuan untuk membuat pendengar melakukan suatu tindakan[3][7]. Ini melibatkan perintah, permintaan, atau permohonan[3].

    *   Bahasa Indonesia: "Tolong, tutup pintunya!"

    *   Bahasa Inggris: "Please, close the door!"

*   **Komisif (Commissive)**: Tindak tutur yang mengikat penutur untuk melaksanakan sesuatu di masa depan[3][7]. Ini mencakup janji, sumpah, atau taruhan[3].

    *   Bahasa Indonesia: "Saya berjanji akan mengembalikan uangmu besok."

    *   Bahasa Inggris: "I promise I will return your money tomorrow."

*   **Ekspresif (Expressive)**: Tindak tutur yang mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan[3][7]. Contohnya adalah salam, pujian, dan ucapan terima kasih[3].

    *   Bahasa Indonesia: "Selamat atas keberhasilanmu!"

    *   Bahasa Inggris: "Congratulations on your success!"

 **Deklarasi (Declaration)**: Tindak tutur yang mengubah realitas sesuai dengan pernyataan[3][7]. Contohnya termasuk pemecatan, perekrutan, atau pengesahan[3].

    *   Bahasa Indonesia: "Dengan ini, saya nyatakan rapat dibuka!"

    *   Bahasa Inggris: "I now pronounce you husband and wife!"

Kisah Dosen Hebat: Indiana jones dan Oppenheimer: Bagaimana Dosen Indonesia? Sibuk dengan borang akreditasi dan laporan BKD?

 Indiana Jones dan Oppenheimer adalah kisah epic petualangan dosen dan peneliti

Indiana Jones adalah seorang profesor arkeologi yang juga dikenal sebagai petualang bernama Dr. Henry Walton Jones, Jr. atau Indy[3]. George Lucas menciptakan karakter ini sebagai penghormatan kepada pahlawan film aksi tahun 1930-an[3]. Indiana Jones dikenal dengan penampilannya yang khas dengan jaket, topi koboi, dan pecut kulit[1].


Indiana Jones dikenal karena petualangannya mencari artefak kuno dan berhadapan dengan berbagai musuh, termasuk Nazi[1][3][4]. Dalam film Indiana Jones and the Dial of Destiny (2023), Indy berusaha mengungkap misteri di balik jam (dial) Archimedes, yang diyakini dapat mengubah sejarah dunia[1].

List Jurnal Terindeks SCOPUS Bidang Linguistics, ELT & Culture




List Jurnal Terindeks SCOPUS Bidang Linguistics, ELT & Culture









Yang pernah S3 di Indonesia atau yang sekarang sedang S3 di Indonesia sedikit banyak terkena kewajiban ini. Dorongan yang masif dan terkesan dipaksakan (syarat lulus S3, luaran Publikasi untuk hibah penelitian tahunan untuk dosen, yang mau ke GB) tetapi jumlah jurnal terindeks scopus yang terbatas menjadi bottleneck yang menggelisahkan terutama yang mau habis masa studinya.

Untuk mhs S3 kenapa wajib pulish di Scopus? Kenapa nggak Sinta 2 saja? Apa Sinta 2 itu jelek? (Susah lho terbit di SINTA 2) SANGAT KETAT reviewnya karena pengelola SINTA 2 juga pengin jurnalnya bisa terindeks scopus naik level jadi SINTA 1.

Untuk jurnal kenapa jurnal ilmiah harus di Scopus kan? Kata para suhu dan senior: Belum tentu artikel yang diterbitkan di jurnal terindeks scopus 100% bagus kualitasnya DAN SEBALIKNYA tidak bisa disimpulkan artikel yang diterbitkan di jurnal yang belum terindeks scopus 100% jelek kualitasnya.

Quo Vadis?

IMPORTANT NOTES: